``

apa mereka tidak bisa berhitung?

Tidak bisa dipungkiri kalau kebijakan pemerintah untuk menaikkan harga BBM sangat menekan kehidupan rakyat, terutama masyarakat yang sekarang sudah hidup di bawah garis kemiskinan. Banyak yang bilang kalau opsi untuk menaikkan harga BBM ini bukanlah satu2nya pilihan yang bisa diambil pemerintah. Tapi toh pemerintah, dengan segala hasil perhitungan dan analisa, akhirnya tetap memutuskan untuk mengurangi subsidi terhadap BBM.

Yang jelas, opsi menaikkan harga bahan bakar minyak ini jelas sangat tidak produktif bagi popularitas Presiden pilpres tahun depan. Atau mungkin bisa lebih buruk: tersingkir sama sekali.

Menurut saya, kebijakan ini memang sebuah kebijakan yang sulit. Memang benar reformasi sudah mulai sejak 10 tahun yang lalu, tapi pemerintahan SBY baru memulainya 4 tahun yang lalu. Itupun dengan kabinet gotong royong, yang anggota2nya sebagian adalah perwakilan partai2. Hanya sedikit saja yang memang benar2 teknokrat dan ahli di bidangnya. Akibatnya, rapor pemerintahan SBY cukup banyak merahnya.

Di lain pihak, di tengah2 situasi seperti ini, beberapa politisi justru bersikap oportunis. Iklan2 politik mereka yang berbiaya puluhan juta rupiah kini berseliweran di televisi maupun surat kabar. Di situ digambarkan seolah2 merekalah yang bisa menyelamatkan bangsa ini dan bahwa mereka sangat peduli dengan rakyat miskin. Bah! Alangkah malangnya nasib rakyat miskin negeri ini, sudahlah hidup mereka makin susah, kini selalu dijadikan komoditas politik pula.

Apa mereka tidak bisa berpikir bahwa kemunculan iklan2 narsis tersebut justru membuat rakyat ini makin muak? Apa mereka tidak bisa berhitung bahwa uang yang dihamburkan untuk membuat dan mempublikasikan iklan2 tersebut bisa digunakan untuk membantu kehidupan rakyat miskin yang selama ini dijadikan tunggangan politik mereka?

Saya makin muak...

Show Comments

Get the latest posts delivered right to your inbox.