``

buku bagus: the dip

Saya baru saja membeli buku yang berjudul The Dip karangan Seth Godin. Bukunya cukup tipis, tetapi ketika saya membaca sampulnya, saya jadi tertarik untuk membelinya.

Dan ternyata isinya juga tak kalah menarik. Bahkan saya begitu antusiasnya sehingga buku itu sudah habis saya baca ketika saya akan tidur. Jarang2 ada buku yang bisa habis saya baca (terakhir kali saya membaca habis sebuah buku, itu adalah stensilan picisan berjudul Mahkotaku yang Terkoyak...).

Di sampulnya tertulis:

A little book that teaches you when to quit (and when to stick).

Menarik, bukan? Seringkali kita berada pada situasi untuk memilih, apakah kita akan quit atau kita akan tetap bertahan. Buku ini akan menjelaskan kenapa kita harus quit dan pada situasi seperti apa. Tapi intinya, Seth menganjurkan (sangat menganjurkan) agar kita selalu berusaha menjadi yang terbaik (the best in the world). Bukan hanya good, excellent, apalagi average, tapi simply the best.

Pada beberapa bagian, dijelaskan mengapa quitting itu bagus dan perlu. Tapi bukan sekedar asal quit, melainkan strategic**quitting. Tidak quit hanya karena pandangan jangka pendek saja, apalagi hanya karena faktor emosional.

Juga dijelaskan mengenai 2 kurva (sebenarnya ada 3 sih, tapi yang sering disebut hanya 2 yang pertama) yang menjelaskan situasi yang sering kita hadapi dalam mengerjakan dan menyelesaikan sesuatu (bisa projects, karir, atau kehidupan sehari2).

Kurva yang pertama disebut** The Dip**.

Kita bisa mengambil contoh sederhana bagaimana pola kurva ini terjadi pada diri kita. Saya ambil contoh diri saya sendiri. Dulu saya sempat ikut fitness dengan tujuan untuk membentuk tubuh saya yang tidak berbentuk ini. Pada saat2 awal program fitness itu berjalan, semua kelihatannya mudah. Saya masih mengangkat beban yang ringan dan mendapat bimbingan dari instruktur. Tapi setelah lewat beberapa minggu, saya mulai kelelahan dan bosan. Padahal beban yang diangkat seharusnya bertambah. Inilah yang disebut The Dip.

The Dip adalah lembah antara awal mula (permulaan) dengan tingkat selanjutnya yang lebih tinggi. Lembah inilah yang seharusnya ditaklukan untuk mencapai ujung bukit yang selanjutnya. Seandainya dulu saya berhasil menaklukan The Dip, mungkin sekarang tubuh saya sudah mirip dengan Brad Pitt, dengan perut kotak2 dan kemana2 selalu dilirik wanita2. I wish... :p

Dan kurva yang satunya lagi disebut sebagai The Cul-De-Sac (baca: Kuldesak). Kurva ini begitu simpelnya sehingga tidak perlu digambar. Situasi yang digambarkan dengan kurva ini adalah dimana kita selalu bekerja dan bekerja dan terus bekerja, tetapi tidak ada yang berubah. Tidak menjadi semakin baik, dan tidak juga menjadi buruk. Hanya begitu2 saja. Itu sebabnya, kurva ini disebut sebagai Kuldesak (dalam bahasa Prancis ini berarti jalan buntu).

Nah, pada penjelasan2 selanjutnya, barulah kemudian bisa dipahami bagaimana seharusnya kita bersikap dalam menghadapi apa yang ada di depan kita. Kalau jalan di depan kita gelap, mungkin itu jalan buntu dan kita harus quit. Tapi kalau kita bisa melihat the light at the end of the tunnel, bertahanlah agar bisa sampai ke ujung jalan.

Haruskan kita menaklukan The Dip? Iya kalau memang kita ingin sukses. Haruskan kita quit apabila kita tahu kita berada di Kuldesak? Iya, buat apa kita habiskan waktu dan tenaga untuk sesuatu yang jelas2 tidak ada gunanya.

Overall, buku ini bagus untuk membangkitkan motivasi kita. Bahasanya ringan dan mudah dimengerti. Walaupun Seth Godin lebih dikenal sebagai blogger dan pemikir dalam bidang marketing modern, tapi buku ini bisa dibaca oleh seluruh kalangan. Termasuk para karyawan kantor dan mahasiswa.

Show Comments

Get the latest posts delivered right to your inbox.