``

buku jakarta underkompor

Beberapa hari yang lalu, saya dan istri berkunjung ke toko buku Gramedia di Pekanbaru. Biasalah, refreshing sekalian melihat2 buku siapa tahu ada yang menarik untuk dibeli. Kalau istri saya malah sudah pasti ada yang dibeli: komik. 😀

Setelah berputar2 sekian lama, tiba2 mata saya tertumbuk pada sebuah buku berwarna biru dengan gambar sampul seorang lelaki mengenakan kaos singlet dan mengangkat kompor. Tapi bukan gambar itu yang membuat saya tertarik untuk mengambil buku tersebut dari raknya, melainkan sebuah pantun singkat yang mengomentari isi buku tersebut dan ditulis oleh salah seorang penulis terkenal negeri ini: Boim Lebon.

jakarta1

Wah, kalau si Boim Lebon saja bilang seru dan lucu, pasti ada yang berbeda dengan buku ini. (Saya juga sempat berpikir, hebat juga ya magnet si Boim. Gara2 baca nama dia, saya langsung mau tertarik untuk membaca buku tersebut. Lain kali kalau saya menulis buku, mungkin saya akan minta komentar dari Ani Arrow ya biar laku juga). 😀

Terus terang saya agak skeptis dengan buku2 sejenis yang belakangan membanjiri rak2 toko buku di seluruh Indonesia. Maksud saya buku2 ber-genre komedi, yang biasanya menceritakan pengalaman hidup sehari2 itu lho. Buku jenis ini mewabah sejak buku si Kambing Jantan - yang diambil dari blog - meledak di pasaran dan dilanjutkan dengan sekuel2nya.

Entah apa jenis buku seperti ini, tapi saya senang menyebutnya Goat-lit, karena memang karakternya sama dengan isi buku si Kambing yaitu menceritakan kekonyolan2 dan kebodohan2 diri sendiri yang diramu menjadi sebuah cerita komedi. Mungkin pantas juga disebut jenis buku Dodol-lit. Soalnya banyak sekali judul buku2 jenis itu yang menggunakan kata 'dodol': Kisah Pelajar Dodol, Anak Kos Dodol, Cerita si Dokter Dodol, Balada Penjual Dodol dan lain sebagainya.

Kembali ke buku biru tadi. Judulnya: Jakarta Underkompor (Sebuah Memoar Garing).  Penulisnya bernama Arham Kendari. Buku ini juga berawal dari kesukaan si Arham menulis berbagai cerita tentang kehidupannya sehari2 di kota Kendari, Sulawesi Tenggara melalui blognya.

Gaya bahasanya memang kocak dan cerdik. Ini yang membuat cerita2nya enak sekali untuk dibaca, seolah2 dia bercerita langsung kepada pembaca. Arham juga menggambarkan dirinya sebagai pemuda yang penuh dengan ke-dodol-an. Bahkan sedikit memprihatinkan dan nyaris tanpa masa depan. Walaupun demikian, dia ternyata sangat sayang kepada emak-nya dan lumayan rajin sholat dan belajar agama.

Buku Jakarta Underkompor berisi lebih dari 30 cerita pendek yang dijamin bisa membuat Anda minimal tersenyum2 sendiri. Buku ini membuat saya tak bisa berhenti membacanya dan alhasil buku tersebut habis luluh lantak dalam waktu sehari saja.

Topik ceritanya juga beraneka ragam, mulai dari kamar tidurnya yang sempit, emak-nya yang sangat sayang pada si Arham ini, TS gadis pujaannya, keponakan2nya yang banyak dan bandel2, tetangga2nya yang rupa2 warnanya sampai cerita masa2 ketika si Arham mengadu nasib ke Jakarta.

Kalau saya tidak salah, si Arham ini juga berprofesi sebagai desainer grafis di sebuah kantor media massa di Kendari. Tak heran kalau buku ini juga diselipi bermacam2 hasil kreativitas Arham dalam mengolah gambar. Ada beberapa komik foto serta gambar2 hasil olahan si Arham, yang saya yakin kalau Roy Suryo tahu dia pasti langsung akan menyelidiki keaslian gambar2 tersebut.

Secara keseluruhan saya bisa bilang kalau buku ini cukup layak untuk dikoleksi dan dibaca. Ringan dan menghibur. Lumayan cover-nya bisa untuk menyembuhkan orang yang kesurupan. Lebih baik membeli buku ini daripada membeli buku tentang klenik dan mistik. Sumpah!

Show Comments

Get the latest posts delivered right to your inbox.