``

curhat tentang aparat yang keparat

Bahwa korupsi sudah mendarah daging di institusi2 pemerintahan, itu sudah rahasia umum. Bahwa mental aparat pemerintah kita korup dan rakus, itu hanya sebuah cerita basi yang terlalu membosankan untuk diceritakan kembali.

Tapi biarlah. Walaupun membosankan, saya tetap ingin menulis tentang kelakuan aparat yang baru saja diceritakan oleh seorang teman saya.

Ceritanya, teman saya ini bekerja di sebuah bagian yang memang banyak berurusan dengan salah satu badan pemerintah yang melayani publik. Banyak sekali dokumen2 dari tempat saya bekerja yang perlu diurus ke kantor badan pemerintah tersebut untuk dimintakan persetujuan atau approval. Tanpa approval dari kantor ini, dokumen2 tersebut bisa dibilang belum bisa digunakan sebagaimana mestinya.

Beberapa hari terakhir ini, teman saya ini terpaksa harus bolak-balik ke kantor badan pemerintah tersebut untuk menanyakan status beberapa dokumen yang sudah dia submit beberapa hari sebelumnya. Seharusnya, kalau sesuai dengan prosedur, dokumen2 tersebut mestinya sudah selesai ditandatangani pejabat yang berwenang. Tapi kali ini, karena suatu sebab, tidak ada satupun dokumen yang selesai ditandatangani.

Maka bertanyalah si teman saya ini ke salah satu staf senior di kantor itu, sebut saja namanya pak Ronaldo. Waktu ditanya, dengan entengnya pak Ronaldo ini menjawab bahwa dokumen2 yang dimaksud itu masih belum diproses karena dia tidak menyetujuinya. Alasan dia tidak setuju? Ya tidak ada alasan yang jelas, pokoknya dia belum memroses saja. Kalau tidak diproses, berarti dokumen tersebut tidak akan sampai ke meja pejabat yang berwenang untuk menandatanganinya, dalam hal ini adalah kepala kantor badan pemerintah tersebut.

Parahnya lagi, pak Ronaldo ini kemudian malah menyuruh salah seorang stafnya untuk mengembalikan dokumen2 yang dimaksud kepada teman saya tadi. Artinya, setelah berhari2 menunggu, teman saya hanya menunggu sesuatu yang sia2.

Mau protes? Mau protes ke mana? Mau melawan itu berarti urusan ke depan bakal makin sulit.

bribe

Ternyata, kejadian ini bukan yang pertama. Tapi boleh dibilang sudah menjadi sesuatu yang 'biasa'. Kata teman saya, sebenarnya tingkah polah si pak Ronaldo ini sudah jelas kok sebab musababnya apa. Lho? Saya yang lugu dan polos ini jadi bertanya, maksudnya sudah jelas bagaimana. Kalau sudah jelas, kenapa tidak dicari solusinya?

Jadi ujung2nya adalah duit. Selama ini, untuk mengurus satu set dokumen kita harus membayar sejumlah uang ke kantor tersebut. Nah, katanya, selama ini pula sekian persen dari uang pembayaran tersebut ada yang masuk ke kantong aparat di sana, tak terkecuali kepala kantornya.

Yang kemungkinan membuat pak Ronaldo menjadi 'ngambek' adalah, entah kenapa belakangan ini dia sudah tidak kecipratan uang lagi. Semuanya langsung masuk ke 'tempat' lain. Akibatnya, masyarakat seperti teman saya ini yang menjadi korbannya. Urusan yang sebenarnya mudah menjadi dipersulit.

Kalau mau menjinakkan orang2 seperti pak Ronaldo ini sebenarnya kita bisa saja menyumpal mulutnya dengan uang. Ini adalah jalan pintas yang sangat mudah. Tapi sayangnya, karena yang diurusi oleh teman saya ini adalah dokumen2 perusahaan dan perusahaan tempat saya bekerja kebetulan sangat keras melarang pegawainya berurusan dengan hal2 semacam ini, maka ya tidak ada jalan lain kecuali harus melakukan lobi2 dengan cara yang lain, yang notabene memang lebih lama dan berliku2.

Kasihan ya rakyat Indonesia. Kalau pemerintahan kita masih dipenuhi orang2 rakus bermental kambing seperti pak Ronaldo dan kawan2nya, kapan bangsa ini bisa hidup adil dan makmur? 🙁

Show Comments

Get the latest posts delivered right to your inbox.