``

hampir pertengahan ramadhan

Bulan puasa kok aktivitas nge-blog jadi menurun ya? Padahal kan seharusnya justru harus lebih kencang. Hehehe. Maunya sih begitu. Tadinya, saya pikir saya bakal seru ngeblog sehabis sahur atau setelah sholat subuh sembari menunggu waktu untuk berangkat ke kantor. Tapi kenyataannya, setelah sholat subuh saya selalu sukses terlelap lagi, bahkan hampir selalu terlambat bangun lagi dan ujung2nya selalu terlambat datang ke kantor. Wah, kontraproduktif nih jadinya. 🙁

Sudah beberapa malam ramadhan saya melaksanakan sholat tarawih di mesjid ini, tapi khotbah2nya belum ada yang "nyantol". Biasanya karena saya sudah terkantuk2, sehingga materi khotbah masuk ke telinga kiri kemudian keluar dari telinga kanan.

Dua malam yang lalu, acara khotbahnya malah diisi oleh seorang Ulama besar dari Palestina. Sang Ulama ini benar2 pejuang Palestina sejati. Bayangkan, beliau sudah 6 kali dipenjara oleh Israel yang dilaknat oleh Allah. Dan kejamnya lagi, beliau pernah disiksa 54 hari berturut2 dengan siksaan yang keji: kemaluan, mata, kepala dan anggota2 tubuh yang lain disetrum. Akibatnya sekarang mata beliau buta. Memang luar biasa kejamnya Israel itu.

Karena beliau berbahasa Arab, maka penyampaian ceramah atau khotbahnya dilakukan dengan bantuan seorang penerjemah. Mungkin isinya menarik, tapi karena dilakukan bergantian antara sang Ulama dan si penerjemah, lama2 saya mulai mengantuk juga. Akhirnya, saya pulang duluan deh.

Khotbah tadi malam lumayan bisa nyantol. Soalnya saya sedang tidak mengantuk dan materinya juga mudah dimengerti. Temanya tentang kedewasaan.

Jadi kalau kita renungkan, ada sifat2 yang identik dengan masa kanak2 kita. Misalnya, anak2 itu cenderung gampang marah atau emosi. Atau ketika misalnya ada sesuatu seperti makanan enak atau mainan, seringkali membuat anak2 itu saling berebut. Anak2 cenderung suka menang sendiri dan itu alami saja.

Nah, sifat2 kanak2 tersebut mestinya lambat laun akan berkurang seiring dengan bertambahnya usia kita. Makin tua kita, mestinya kita makin bisa mengendalikan emosi.

Tapi, ketika ada orang yang sudah tua (mau menyebut orang dewasa kok artinya jadi lain ya?), tapi masih belum bisa mengendalikan emosinya, masih mengumbar emosinya, apakah itu bisa dikatakan dewasa?

Atau misalnya ketika para pejabat itu saling berebut kekuasaan dan uang, layaknya anak2 kecil yang saling berebut, apakah mereka bisa dikatakan dewasa?

Apakah orang dengan sifat tamak bisa dikatakan dewasa? Atau orang yang pura2 merasa tidak bersalah bisa dikatakan dewasa?

Munculnya sifat2 kekanak2an tadi dipicu oleh satu hal: ketidakmampuan kita mengendalikan hawa nafsu.

Jadi, intinya kedewasaan itu bisa didapatkan dengan cara mengendalikan hawa nafsu. Nah, berarti puasa mestinya juga bisa membuat orang menjadi dewasa.

Show Comments

Get the latest posts delivered right to your inbox.