``

film namaku dick

Hari sabtu lalu, saya dan istri menonton film yang berjudul Namaku Dick. Entah kenapa waktu sampai di antrian loket, saya tiba2 menjatuhkan pilihan pada film ini, padahal kalau tahu filmnya seperti ini, saya pasti tidak akan menontonnya. Tapi yah, penyesalan selalu datang terlambat.

Dari awal, akting para pemainnya terbilang buruk. Bahkan Tora Sudiro kelihatan sekali tidak bermain maksimal. Apalagi pemeran wanitanya (kayaknya sih wajah baru ya), wah benar2 kaku deh aktingnya.

Ternyata makin lama, makin terasa kalau film ini sangat membosankan dan garing. Usaha untuk membuat film ini kocak dan lucu ternyata gagal total.

Ide ceritanya bahwa penis si Tora itu bisa berbicara, justru menambah kekonyolan film ini. Ditambah lagi dengan kata2 dubber-nya (mungkin yang jadi dubber itu si Aming ya?) yang menurut saya sungguh norak dan kampungan, sama sekali tidak lucu. Penis si Tora itulah yang sepertinya bernama Dick (walaupun saya tidak ingat dia memperkenalkan diri sebagai Dick, dan kenapa tidak si Otong saja sekalian!).

Jalan ceritanya juga dangkal dan mudah ditebak.

Hmm, sisi bagus dari film ini apa ya? Ya mungkin sedikit pesan moral agar kita jangan mempermainkan perasaan pasangan kita, apalagi bermain2 dengan komitmen. That's it.

Saya dan istri saya keluar studio bioskop hampir tanpa kesan. Menurut saya, malah masih mending film The Tarix Jabrix yang kami tonton seminggu sebelumnya. Jauh lebih meninggalkan kesan.

Nah, besoknya saya ngobrol2 dengan seorang teman di kantor. Ternyata dia juga mengajak istri dan anak2nya untuk menonton film ini. Dan dia menyesal sekali, apalagi dia membawa ketiga anaknya yang masih duduk di bangku SMP dan SD. Terlalu banyak kata2 yang kurang sopan dalam dialog film itu.

Kesimpulannya, film ini tidak direkomendasikan untuk ditonton, kecuali kalau memang ada waktu atau uang.

Show Comments

Get the latest posts delivered right to your inbox.