``

buku Laskar Pelangi

Setelah berbulan2 mendengar haru biru tentang novel ini, baru hari sabtu lalu saya membeli dan membacanya. Novel Laskar Pelangi ini memang "berbeda" dengan novel2 Indonesia kebanyakan. Begitu membacanya, saya langsung bisa merasakan energi yang meluap2 yang timbul dari alur cerita yang berkelok2 dan naik turun serta penceritaan yang cukup detail dan sangat realis.

Makanya, saya hampir tak percaya kalau sang penulis, Andrea Hirata, bahkan tak pernah menulis sebuah cerpen pun sebelum akhirnya dia merampungkan novel yang menjadi bagian pertama dari tetraloginya ini. Luar biasa!

Setting ceritanya adalah di sebuah pulau bernama Belitong, yang terkurung samudera dan diceritakan sangat kaya dengan sumber daya alam Timah. Di situ berdirilah sebuah perusahaan negara PN Timah yang orang2nya digdaya penuh dengan kemakmuran dan kesejahteraan dari hasil mengeruk timah dari perut bumi. Dan layaknya perusahaan2 besar pengeruk hasil bumi di Indonesia, PN Timah ini berdiri kokoh di tengah2 masyarakat sekitar yang hidup di batas dan di bawah garis kemiskinan. Sebuah kontras yang sudah dianggap sebagai sebuah kewajaran oleh orang2 kita.

Tapi, bukan di perusahaan itu inti cerita novel ini melainkan di sebuah sekolah Muhammadiyah yang bangunannya hampir rubuh dan hanya digerakkan oleh segelintir guru2 yang mengajar dan mendidik penuh pengabdian. Di sekolah inilah ada sebelas anak2 murid yang kemudian menamakan diri mereka sebagai Laskar Pelangi dan mereka inilah yang menjadi tokoh2 utama dari novel ini.

Banyak pesan moral dan cinta yang bisa diambil dari novel ini. Saya pikir hal ini juga yang membuat novel ini juga bagus dibaca oleh anak2 maupun orang dewasa.

Gaya bahasa yang dibawakan oleh sang penulis juga bagus. Mungkin sang penulis memang terlahir atau tumbuh dalam lingkungan yang sangat sastrawi, terutama Melayu. Selain itu, kemungkinan besar sang penulis memang benar2 tumbuh di pulau Belitong tersebut sehingga penggambaran tentang keadaan lingkungan dan alam pulau tersebut terasa sangat nyata.

Hal itu juga yang membuat saya terus saja ingin membaca novel ini. Untung saya masih ingat waktu, sehingga novel ini baru habis dalam waktu 2 hari.

Sekarang, saya tinggal mencari waktu untuk membaca buku2 selanjutnya dari tetralogi ini. 😀

Show Comments

Get the latest posts delivered right to your inbox.