``

Piknik di Singing Dune

Sore ini kami bergabung dengan beberapa teman dan keluarga untuk berpiknik ria di Singing Dune. Kenapa namanya singing dune? Karena kalau kita meluncur dari puncak dune ke bawah, gesekan antara badan kita dan pasir akan menimbulkan suara-suara berdengung, mirip seperti sebuah instrumen musik.

Pada piknik kali ini, menu utamanya adalah kambing pendhem ala Arab. Kami membeli 2 ekor kambing muda utuh yang sudah dibumbui dan dibungkus dengan kertas alumunium. Kedua ekor kambing tersebut kemudian dikubur dalam sebuah lubang sedalam kurang lebih 60 sentimeter yang sudah diisi dengan bara api selama kurang lebih 2 jam.

Sementara menunggu kambing pendhem-nya matang, kami memanjat ke atas bukit pasir dan menikmati pemandangan dari atas bukit. Naik ke atas bukit membutuhkan tenaga yang tak sedikit. Bagi kita yang sudah tidak bisa dibilang muda lagi, mendaki bukit pasir ini adalah sebuah perdjoeangan. Namun, bagi anak-anak seperti tidak demikian. Mereka dengan ringan dan riangnya naik turun bukit beberapa kali tanpa terlihat lelah.

Ayah saya saat mendaki bukit pasir (sand dune)
Berpose di puncak setelah berhasil "menaklukkan" the singing dune
Ciyeee...
Keren fotonya
Rombongan sirkus di puncak singing dune
Membuat api unggun

Ayah saya yang kebetulan baru tiba di Qatar tadi pagi juga ikut naik ke atas bukit. Saya agak takjub juga karena usia beliau sudah hampir mencapai 70 tahun!

Kambing pendhem sudah siap untuk dibongkar dari dalam tungku pasirnya menjelang maghrib dan kami pun menikmati makan malam di tengah gurun dengan menu kambing pendhem berbumbu khas Arab. Mantap!

Show Comments

Get the latest posts delivered right to your inbox.