``

sebuah ironi, relativitas sebuah rasa yang bernama lapar

Tuhan memberikan rasa lapar kepada makhluk hidup supaya mereka berusaha mencari makan untuk bertahan hidup. Andai tak ada rasa lapar, mungkin banyak manusia yang lupa untuk makan dan akhirnya mati. Andai tak ada rasa lapar, mungkin rantai makanan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Andai tak ada rasa lapar, mungkin jumlah orang yang kegemukan tidak sebanyak sekarang ya... 😀

Tulisan yang berjudul I Am So Starving vs. I Am So Starving ini juga berkaitan tentang rasa lapar. Lebih tepatnya mungkin membandingkan dua keadaan lapar yang amat sangat pada dua anak manusia yang berada pada dua kehidupan yang jauh berbeda. Bagai bumi dan langit.

Brittany Birnbaum, seorang gadis yang kelihatannya hidup dalam kehidupan yang serba berkecukupan. Segala macam makanan dan minuman pasti sudah pernah disantapnya. Berjenis2 makanan sampah (junk food) sudah masuk ke perutnya. Tak pernah rasanya perutnya sampai kosong melompong kekurangan makan. Tapi, toh dia merasa kelaparan setengah mampus.

Oh, my God, I am *so *starving. I swear, if I don't get something to eat in like two minutes, I am going to die.

Orang kedua, Kitum Asosa, juga sedang menderita kelaparan yang amat sangat. Badannya digambarkan sangat kurus dan kering. Tinggal kulit berbalut tulang. Makanan yang terakhir dimakan adalah seekor kadal kecil, sekedar untuk bertahan hidup. Jangankan minum, untuk menelan ludah pun sudah nyaris tak mungkin karena dehidrasi akut.

I would walk 100 miles through the desert to reach a handful of millet. The sight of a sparrow carcass would make my mouth water, if only I were not too dehydrated to salivate. I have not eaten a full meal since the last rain, which caused a few precious patches of field grass to sprout.

Moral yang bisa diambil: janganlah mudah mengeluh karena rasa lapar. Bersyukurlah karena masih bisa merasa lapar dan masih bisa makan.

Info via CowboyCaleb.

Show Comments

Get the latest posts delivered right to your inbox.