``

sepuluh tahun yang lalu...

Waktu terus berlari, langkah2nya kadang senyap, cepat, berderu, menggebu, kadang berjalan lambat, terseok2, kadang seperti hendak berhenti. Yang jelas, waktu tak pernah benar2 diam.

Bulan ini, sepuluh tahun yang lalu, saya jadi teringat jaman2 ketika intensitas demo, terutama yang digerakkan oleh mahasiswa, menjadi makin tinggi. Saya bukan aktivis sih, tapi waktu itu karena dorongan euforia jadi mahasiswa tingkat pertama, segala sesuatunya ingin dicoba, termasuk ikut2an berdemo. Untungnya saya tidak sampai jadi korban tindakan represi polisi dan tentara seperti yang dialami oleh beberapa rekan2 mahasiswa.

Beberapa kali terjadi demo, baik dalam skala kecil maupun besar. Yang terbesar mungkin ya yang terjadi pada tanggal 20 Mei, yang kemudian dikenal sebagai demo sejuta rakyat Jogjakarta karena melibatkan hampir seluruh lapisan masyarakat. Demo ini memang benar2 "melumpuhkan" kota Jogja.

Wah, saya ingat sekali tuh, sejak mulai iring2an mahasiswa mulai berjalan dari kampus UGM, saya bersama seorang teman waktu itu, Dena Firmayuansyah, berada di barisan yang paling depan. Dengan menggunakan jaket almamater, kita berdua petentang petenteng di depan bak pasukan khusus pengawal tamu penting. Padahal jadi panitia pun bukan. 😀

Selama perjalanan menempuh rute dari kampus UGM ke kraton Jogja, di kiri kanan jalan banyak sekali masyarakat yang menyediakan minuman ringan dan makanan kecil serta buah2an. Partisipasi masyarakat saat itu memang luar biasa dan jelas sekali bahwa mereka sangat mendukung aksi ini.

Karena berada di barisan yang paling depan, saya dan Dena tentu saja kebagian jatah "mencicipi" segala macam minuman dan makanan kecil yang tersedia. Ada kue2, kacang2an, sampai buah2an penghilang dahaga seperti semangka dan jeruk. Sebagai anak kos, tentu kami tak mau melewatkan kesempatan langka untuk mendapat asupan gizi yang lebih ini. Jadilah kami malah menjadi seperti juri lomba masakan, menghampiri meja2 masyarakat yang penuh dengan minuman dan makanan tersebut.

Mungkin karena terlalu serius mengisi perut, saat sudah mulai memasuki jalan Malioboro, perut kami mulai terasa aneh dan tidak enak. Rasa lelah yang amat sangat tiba2 datang. Dan akhirnya, kami memutuskan untuk keluar dari barisan dan beristirahat di emperan toko di pinggiran jalan Malioboro. Benar2 memalukan kami berdua ini.

Kami pun terduduk kelelahan dengan badan basah oleh keringat dan perut yang penuh. Sementara barisan mahasiswa dan masyarakat terus berjalan menuju krator. Benar2 memalukan kami berdua ini.

Akhirnya, setelah sekitar satu jam kami terduduk tak berdaya, kami pun memutuskan untuk pulang ke kos2an. Sementara saat itu, ribuan rakyat Jogja dan mahasiswa sedang berkumpul di alun2 bersama Sri Sultan HB X menyuarakan reformasi. Benar2 memalukan kami berdua ini.

Malamnya, saya ingat sekali saya dan Dena serta seorang teman makan bersama di warung Sop Kaki Kambing depan RS Panti Rapih. Hari itu saya sedang merayakan ulang tahun yang ke 19. 😀

Show Comments

Get the latest posts delivered right to your inbox.