``

tetang si wan yang menyalahkan si rusli

Headline salah satu surat kabar terkemuka di Pekanbaru: Wan Salahkan Rusli.

Wan adalah Wan Abubakar, Wakil Gubernur Provinsi Riau yang sekarang. Sedangkan Rusli adalah Rusli Zainal, Gubernur Provinsi Riau sekarang.

Keduanya hampir pasti akan bertarung pada Pemilihan Gubernur Riau (Pilgubri) yang rencananya akan diselenggarakan pada bulan September tahun 2008 ini.

Lalu, kenapa seorang wakil gubernur yang sedang menjabat menyalahkan atasannya (gubernur) yang juga masih menjabat? Ini dia salah satu fenomena politik yang cukup menggelitik sekaligus memprihatinkan di provinsi ini.

Saya baru sekitar 4 bulan tinggal di Pekanbaru, tapi dari beberapa pemberitaan di koran2 lokal, walaupun tidak secara eksplisit, saya bisa membaca bahwa ada ketidakrukunan antara Gubernur dan Wakil Gubernur di sini. Secara publik, keduanya tidak pernah muncul sebagai pasangan dwi-tunggal. Saya curiga jangan2 begitu juga dengan kegiatan dan kewajiban tugas mereka sehari2, tidak pernah akur. Ternyata kecurigaan saya memang benar adanya.

Di Pekanbaru, kita bisa melihat belasan (atau mungkin puluhan) spanduk dan baliho berisi berbagai macam tulisan atau kegiatan dengan sosok dan senyum manis sang Gubernur. Tapi jangan harap melihat sosoknya didampingkan dengan wakilnya. Begitu juga sebaliknya.

Dari berita headline surat kabar tersebut, dituliskan bahwa memang selama 5 tahun masa jabatannya sang Wagub ini merasa kewenangannya dikebiri. Dalam banyak hal, Gubernur disebut sering terlalu ikut campur. Akibatnya, sang Wagub merasa geraknya dibatasi dan bahkan merasa menjadi korban demi kepopuleran sang Gubernur.

Jadi, bisa dibayangkan selama 5 tahun ini, rakyat Riau dipimpin oleh para pemimpin yang tidak akur seperti itu. Lucunya, walaupun selama ini sang Wagub merasa tidak berarti di pemerintahan, nyatanya dia masih duduk di kursi tersebut. Makan gaji buta, pak? Mungkin ada alasan tertentu yang membuatnya bertahan di kursi Wagub. Mungkin karena mengundurkan diri itu belum membudaya di sini. Atau mungkin juga kursi Wagub itu terlalu manis untuk dilepaskan.

Di sisi lain, rakyat bisa menonton bagaimana Gubernur-nya beraksi sendirian, one man show, jatuh bangun, banting tulang, peras keringat, darah dan air mata, untuk memimpin dan membangun Provinsi ini. Tepuk tangan! Salute! Tunggu dulu! Hasilnya bagaimana? Ya tanyakan saja pada rumput yang bergoyang.

Tentu saja masih terlalu dini bagi saya menilai siapa dan bagaimana Gubernur Rusli Zainal itu. Kesan saya, beliau ini tipe pemimpin yang senang "dekat" dengan rakyatnya, yaitu dengan cara membuat rakyatnya bisa melihat dan memandangi sosok dan senyum manisnya setiap hari.

Selain itu, maaf, saya belum tahu banyak tentang program2 beliau. Yang jelas, ketika 2 minggu belakangan ini saya pergi ke beberapa tempat di penjuru Riau, ada 2 hal yang penting untuk dicatat:

  1. Kondisi jalan raya antar kota yang buruk dan berlubang. Kata beberapa orang teman, kalau kita sudah melewati jalan raya yang mulus dan tanpa lubang, itu berarti kita sudah masuk provinsi lain. Lalu, dikemanakan saja uang pajak dari rakyat dan hasil bumi selama ini ya?
  2. Kondisi hutan yang mengenaskan. Kalau yang ini, saya benar2 sedih melihatnya dan mempertanyakan kebijakan pemerintah tentang perlindungan hutan. 🙁

Kembali ke masalah hubungan kedua pemimpin tersebut, menurut saya hal ini tentu mau tidak mau, suka tidak suka, akan membuat citra yang tidak baik di masyarakat. Kalau pemimpinnya saja tidak bisa akur dan kompak, bagaimana dengan rakyatnya?

Mudah2an Pilgubri mendatang ini tidak hanya akan menghasilkan pasangan pemimpin yang kompak dan akur, tapi juga jujur, tangguh, dan bersih.

Show Comments

Get the latest posts delivered right to your inbox.